Bukan diary, hanya catatan sembarangan dari keseharian anak yang hyper aktif

Senin, 19 Maret 2012

Sky dan sebuah pintu merah (cerbung eps. 1)



Malam ini sudah tiga cawan sake dia habiskan. Hari-harinya memang tak pernah lepas dari minuman khas Jepang ini, kebiasaan tersebut muncul sejak dia pertama kali menginjakkan kaki di negeri matahari Jepang.
***
Sebut saja dia Sky. Dia adalah anak dari seorang navigator sebuah kapal dagang dari Inggris. Waktu itu Sky masih berumur dua tahun, rambutnya yang pirang dan bergelombang, mata sipit dengan bola mata yang berwarna biru, dan bibir tipis yang menghiasi wajahnya. Sky adalah anak dari sepasang suami istri yang berbeda Negara, ayahnya Inggris dan ibunya berasal dari Jepang. Namun sayang, Sky kecil yang malang ditinggal lari oleh ibunya sewaktu dia masih berumur sekitar dua bulan .
Dan sang ayah karena pekerjaannya, ia tak bisa mengurus Sky. Sky pun dititipkannya kepada seorang wanita paru baya bernama Elin. Elin adalah seorang wanita yang hidup sendiri, dia janda dan ditinggal pergi oleh ketiga anaknya. Karena itulah kehadiran Sky menjadi sebuah kebahagiaan yang ia nanti-nantikan dalam hidupnya.
Karena saking jarangnya Sky bertemu dengan sang ayah membuat Sky jadi susah untuk mengingat rupa ayahnya. Dalam kurun waktu satu tahun dia paling hanya bisa bertatap muka dalam waktu yang sangat singkat dan membuatnya canggung bila bertemu dengan ayahnya.
“Kelak kau akan tumbuh besar dan kuat nak, hadapilah dunia dengan caramu! Kembangkan lebar-lebar layar semangatmu dan berlayarlah di dunia yang penuh dengan tantangan ini!” Dengan suara seraknya sang ayah mencoba berbicara kepada anaknya yang menatap lugu karena tak mengerti dengan yang di ucapkan oleh ayahnya.
Setelah memberikan beberapa uang untuk kebutuhan anaknya, si ayah kembali berlayar menuntun arah kapal dari negara satu ke negara lainnya.
***
Hari itu dibawah terik matahari, suasana duka sedang menyelimuti kota London. Elin yang selama ini merawat dan membesarkan Sky pergi meninggalkan dunia untuk selama-lamanya. Tak tampak kesedihan dari wajah Sky, namun jauh di lubuk hatinya dia sangat merasakan kehilangan.
Saat itu Sky sudah tumbuh dewasa, umurnya sekitar dua puluh tahun. Perawakannya yang tinggi sedang, tubuh yang sedikit kurus, dan dengan rambutnya bergelombangnya yang dikuncir kebelakang duduk termenung menatap batu nisan sang pengasuhnya sejak kecil. Entah akan sesunyi apakah hidupnya setelah ini, sebab orang yang selama ini sering menghiburnya, memanjakannya, dan ang sering memarahinya sudah tak dapat dia jumpai lagi. Sky akan sangat merindukan suasana saat hidup bersama Elin.
Ditengah lamunannya, sang ayah yang kebetulan menghadiri resepsi pemakaman menghampirinya dan duduk disampingnya.
“Kau sekarang sudah besar nak, sudah saatnya ayah menunjukkan sesuatu yang tak pernah kau ketahui sebelumnya. Tadi malam ayah tak sengaja menemukan sebuah kotak yang selama ini ayah anggap telah hilang.” Sambil memperlihatkan kotak yang dimaksud. Di dalam kotak ini tersimpan beberapa kenangan ayah dan ibumu, dan salah satunya adalah ini.” Sambil menunjukkan selembar foto yang telam kusam.
Sky tetap diam dan menatap nanar kerah foto tersebut. Di dalam foto itu ada sesosok pria perkasa dan seorang wanita yang sedang menggendok seorang bayi laki-laki.
“Ya, itu adalah ayah, ibu dan kau yang masih kecil.” Lanjut sang ayah. “Kemarin ayah mendapat informasi bahwa sekarang ibumu berada di tanah kelahirannya Jepang, dan dia bekerja sebagai perancang busana terkenal di Kyoto. Pergi dan carilah ia, sampaikan salam dan perminta maafan ayah untuknya”. Kemudian sang ayah pergi meninggalkan Sky yang masih termenung menatap foto itu.
Hari itu telah menjadi hari terakhir untuk Sky bertemu ayahnya. Sebulan setelah kepergian Elin, telah beredar berita di televisi maupun surat kabar tentang sebuah kapal dagang dari Inggris yang terbakar di tengah sungai Manhattan, Amerika. Kapal itu adalah kapal yang ditumpangi ayah Sky. Belum jelas kenapa kapal itu terbakar, yang pasti tak ada rasa sedih sedikitpun dari Sky karena kehilangan sang ayah. Sebab lautan telah menghanyutkan ikatan batin antara seorang ayah dan anaknya yang sering ditinggal berlayar.

Seminggu sudah berlalu sejak berita tentang kecelakaan kapal yang menewaskan banyak armadanya, Sky memutuskan untuk mengikuti apa yang sudah disarankan oleh almarhumah ayahnya. Dia pergi menuju Negeri Jepang untuk mencari sosok ibu yang sama sekali belum pernah dia temui. Hanya selembar foto yang diberikan sang ayahlah yang menjadi petunjuk Sky untuk menemukan ibunya.
Hari ini tepat pukul enam pagi Sky berangkat menuju Jepang dengan keberangkatan yang pertama. Dengan perbekalan yang seadanya dan berbekal keberanian untuk menjelajah negeri yang hanya dia kenal lewat buku.
Bersambung.

Cuplikan episode selanjutnya.

Sedari tadi gadis Asia itu terus memadang Sky yang duduk di samping tempat duduknya. Gadis itu terlihat sangat enerjik dan dan lincah. Namun karena Sky yang sejak kecil memang seorang yang pendiam, dia sama sekali tak menghiraukan ada seorang gadis yang sejak awal penerbangan sudah memperhatikan dirinya.
Penerbangan kali ini ditemani dengan cuaca yang sangat cerah. Sky duduk disamping jendela dan menatap langit biru tanpa awan. Dia berfikir kenapa kedua orang tuanya memberi nama Sky yang artinya langit. Mungkin mereka menginginkan anak laki-lakinya ini memiliki semangat hidup yang seluas langit.
Tanpa sepengetahuan Sky, gadis it uterus memperhatikan gerak-gerik Sky, dan kali ini Sky mulai merasa risih.
                ”Dari tadi ku perhatikan kau selalu memperhatikanku, apa ada yang salah?” ucap Sky yang mulai bingung dengan sikaf gadis itu.
                Gadis itu hanya membalas kata-kata Sky dengan seulas senyum.
                “Hey, apa aku sedang berbicara dengan sebuah patung wanita yang memiliki senyum misterius Monalisa?” Lanjut Sky lagi, dan kali ini diiringi oleh tawa kecil sang gadis dan membuat Sky semakin bingung.
                Belakangan diketahui gadis Jepang itu bernama Rein. Dia adalah seorang mahasiswa semester awal jurusan musik di Universitas Harvard. Namun dia terpaksa memutuskan studinya karena ibunya yang berada di Jepang sedang sakit keras. Wajah Rein bulat dan memiliki mata kecil yang menggemaskan. Umurnya sekitar delapan belas tahun, dua tahun dibawah Sky. Dan Rein lah orang Jepang pertama yang dikenal Sky.
               

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mari kita berbagi dengan mengomentari postingan ini.. haha