Bukan diary, hanya catatan sembarangan dari keseharian anak yang hyper aktif

Senin, 12 Maret 2012

riwayat hidup


Riwayat Hidup
“Saat ku teriakkan tangisan pertamaku, dari sinilah  petualanganku dimulai”

            Banjarmasin, 24 Juli 1992. Ditengah keadaan ekonomi yang serba sulit, saya Fauziannor anshari dilahirkan.Dari pasangan suami istri Wahid Anshari dan Noor Diana. Saya anak kedua dari dua bersaudara, nama kakak saya Fahmiannor anshari.
            Saya dirawat dan dibesarkan di Banjarmasin ini dengan perjuangan keras kedua orang tua saya. Ayah saya dulunya hanya lah seorang pekerja serabutan, dengan semangatnya dia berusaha keras untuk menafkahi keluarganya. Sedangkan ibu saya dulunya hanya seorang tukang cuci, itu pun kalaunya ada orang yang membutuhkan jasa tersebut.Namun itu semua tidak menyurutkan niat kedua orang tua saya untuk kedua anaknya agar bisa hidup lebih baik.
            Kesederhanaan, itu yang selalu mereka ajarkan kepada kami berdua. Hidup memang sulit, namun kalau kita hadapi dengan ikhlas, sabar, tabah, dan tawaqal, maka ssegala kesulitan itu akan menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kehidupan kita. Itu lah yang diajarkan kedua orang tua saya.


***



Pahit Manis Kehidupan
“Pahit manis dalam hidup akan menjadi sebuah memori yang manis kalau kita memaknainya sebagai sebuah perjalanan”

            Pengalaman pahit yang saya alami selama perjalanan hidup saya adalah, ketika dulu saya dianggap sebagai orang yang tidak bisa apa-apa, bahkan untuk diri saya sendiri. Seringkali saya menyendiri karena saya tidak bisa seperti anak-anak yang lain yang punya kemampuan, punya bakat, dan apapun yang mereka inginkan bisa didapat dengan meminta kepada orang tua mereka.
            Sampai suatu ketika waktu saya duduk di bangku Aliyah (SMA), saya tertarik untuki terjun di dunia kesenian. Di sana saya bisa belajar berbagai macam  kesenian, dan dengan segala pelajaran yang didapat serta pergaulan di sana, terbuka lah hati saya tentang sebuah arti dari kehidupan. Saya benar –benar mearasakan hidup saya lebih berasa hidup.Disini lah saya menemukan kebahagiaan yang berbeda. Bahkan saya bisa mengukir berbagai prestasi di bidang  kesenian.
            Berawal dari teater sekolah yang bernama Teater Tunas Banua yang waktu itu saya bersama teman-teman saya dibantu oleh para guru di sekolah saya yang mendirikannya. Kami belajar bersama, bukan hanya pelajaran berseni yang kami dapat di sana, kami juga belajar tentang makna kehidupan sebagai sebuah proses pendewasaan diri. Waktu saya di Teater Tunas Banua, saya pernah berhasil mendapatkan penghargaan sebagai aktor terbaik se Kalimantan Selatan pada tahun 2009 pada ajang festival teater tingkat provinsi.
            Setelah lulus dari Aliyah, kegiatan berseni kami tidak terhenti. Kami mendirikan kembali sebuah sanggar seni yang kami beri nama Sanggar Anam Banua. Kami meneruskan pelajaran kami di bidang kesenian.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mari kita berbagi dengan mengomentari postingan ini.. haha